by

Analisa Laboratorium Migrasi BPA Telah Melewati Batas Toleransi

Ketua Umum Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL), Roso Daras, secara konsisten terus menghimbau masyarakat agar menghindari plastik mengandung Bisphenol-A (BPA) yang digunakan untuk kemasan makanan dan minuman. Sebab secara umum BPA berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil.

Pada bulan Maret 2021 lalu, pihak kata Roso, mengirim sample berupa beberapa galon guna ulang yang kemasannya mengandung BPA. Galon tersebut didapat dari mata rantai distribusi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) galon guna ulang ke Tuv Nord Laboratory Service, untuk dianalisa migrasi Bisphenol-A (BPA).

“Ini yang menganalisa migrasi BPA laboratorium kredibel dan independen berskala internasional. Hasilnya mengejutkan. Migrasi BPA nya berkisar antara 2 hingga 4 ppm. Padahal batas toleransi yang diizinkan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan)0,6 ppm /bpj.,” terang Roso Daras, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (18/05/2021).

Tentang metode analisa, kata Roso, analisa migrasi BPA dilakukan selama 25 hari di Tuv Nord Laboratory Service, dengan mengikuti analisa parameter BPA Metode SNI 7626-1:2017. Penggunaan Metode SNI 7626-1:2017 ini adalah Standard Nasional Indonesia, Cara Uji Migrasi Zat Kontak Pangan Dari Kemasan Pangan – Bagian 1: Plastik Karbonat (PC), Migrasi Bisfenol A (BPA).

“Kami telah menuruti permintaan BPOM. Karena terbatas dalam hal penelitian, maka JPKL meminta Tuv Nord Laboratory Service melakukan analisa terhadap migrasi bisphenol A pada galon guna ulang polikarbonat 19 liter,” terang Roso.

Setelah menerima hasil analisa terbaru dari Tuv Nord Laboratory Service, JPKL segera berkirim surat ke BPOM melaporkan hasil penelitian migrasi BPA tersebut.

JPKL juga menyampaikan hasil penelitian migrasi BPA dan kajiannya ke BPOM dari referensi peraturan terkait BPA dari beberapa Negara. Berbagai riset dari peneliti dunia dan Indonesia, juga menyatakan bahwa kemasan plastik yang mengandung BPA berbahaya dan telah dilarang penggunaannya di negara maju.

Dengan disampaikan hasil analisa lab migrasi BPA, penelitian dan kajian peraturan di beberapa negara serta peneliti bahaya BPA ke BPOM, JPKL berharap BPOM mau mereview dan merevisi peraturan mengenai informasi BPA yang telah berlaku, serta memberi label peringatan konsumen pada kemasan galon guna ulang polikarbonat 19 liter yang mengandung BPA.

“Sebab siapa lagi kalau bukan BPOM. Kami sangat mendukung BPOM untuk menjaga kesehatan masyarakat Indonesia. Dukungan itu dilengkapi dengan hasil analisa dan kajian yang akurat. Setidaknya analisa laboratorium dilakukan oleh pihak yang sangat kompeten,” papar Roso Daras.

Roso Daras percaya, dengan hasil penelitian dan kajian tersebut, BPOM akan mendengarkan temuan JPKL dan permintaan konsumen. Sebab menurut Roso Daras, tim BPOM terdiri dari orang-orang peduli kesehatan masyarakat. Tidak melindungi pihak yang menyerukan bahaya BPA adalah hoax dan membelokan fakta.

“Analisa Tuv Nord hasilnya jauh melewati batas toleransi. Migrasinya berkisar antara 2 hingga 4 ppm di atas ambang batas yang ditetapkan BPOM yaitu 0,6 ppm. Ini batas toleransi yang dilewati sudah sangat jauh, dan ini berbahaya,” terangnya.

Di beberapa Negara, seperti di Eropa — sebagian peraturan federal Negara Amerika, dan Negara Asia telah melarang penggunaan kemasan plastik yang mengandung BPA melalui regulasi yang berkaitan dengan bayi dan balita.

Oleh karena itu, Roso prihatin, upaya selama hampir empat bulan mendesak BPOM sebagai pemegang regulasi agar mencantumkan label peringatan konsumen pada kemasan galon guna ulang yang mengandung BPA, belum ditindak lanjuti dengan cepat .

Pada pertemuan, 4 Februari 2021 lalu, JPKL mengajukan usulan agar BPOM mencantumkan label peringatan konsumen pada kemasan galon guna ulang yang mengandung BPA.

Usulan tersebut didasarkan hasil penelitian dari berbagai negara maju menyatakan Bisphenol A berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Hasil riset penelitian internasional dan nasional, juga menemukan paparan BPA dapat mempengaruhi berat badan lahir, perkembangan hormonal, perilaku, autisme, kerusakan sel- sel saraf otak secara permanen dan resiko kanker di kemudian hari./*** Eddie Karsito

Comment

Leave a Reply

News Feed