by

Duta Seni Kabupaten Bojonegoro Kenalkan ’Wayang Thengul’ sebagai Ikon Daerahnya

Laporan Ramadhan Panjaitan

Khasanah kesenian wayang kita kaya. Ada beragam jenis wayang. Tampil dalam berbagai medium ekspresi dengan beragam jenis, bentuk, dan ukuran. Ada Wayang Beber (dalam bentuk gulungan gambar), Wayang Kulit, Wayang Golek (Wayang Boneka Kayu), Wayang Wong dan Topeng, dan masih banyak lagi jenisnya.

Selama dua pekan, Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur melalui kegiatan Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur menampilkan jenis kesenian ini. Namun kedua jenis wayang ini tidak ditampilkan dalam rupa yang utuh – murni sebagai pertunjukan ’Wayang Golek’ – melainkan dielaborasi dan kolaborasi dalam karya garapan tari, dan ’Wayang Wong’.

Jika pekan lalu (Minggu, 21/07/2019), duta seni daerah Kabupaten Nganjuk mementaskan ’Wayang Timplong’ , maka pekan ini (Minggu, 28/07/2019), duta seni daerah dari Kabupaten Bojonegoro menampilkan ’Wayang Thengul’. Digelar di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (28/07/2019).

’Thengul’ tampil memikat, unik dan menarik. Konsep garapan yang menggabungkan wayang aslinya; ’Golek’ atau wayang kayu dengan ’Wayang Wong’ serta tarian dengan pengembangan gerak yang bersumber dari wayang.

Wayang Thengul adalah jenis kesenian tradisional khas dari Kabupaten Bojonegoro. Mohon doa pada tanggal 17 Agustus 2019 nanti Wayang Thengul juga akan tampil di Istana Negara dalam acara kenegaraan,” ujar Bupati Bojonegoro, DR Hj Anna Mu’awanah menyampaikan sambutan.

Rangkaian acara kesenian dan budaya ini, ujar Anna, adalah upaya mengangkat sektor pariwisata di daerahnya. Selain itu, pemeritahannya juga concern terhadap peningkatan pembangunan fisik serta peningkatan sumber daya manusia.

“Kita baru saja menggelar ‘Bojonegoro Thengul International Folklore Festival’ yang diikuti empat Negara, yaitu Bulgaria, Thailand, Polandia, dan Meksiko. Banyak seniman kita ambil bagian di acara ini. Alhamdulillah acara ini dicatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI),” tukas Anna bangga.

’Wayang Wong Thengul’ ditampilkan sebagai kesenian unggulan dengan lakon ’Mbededhag Kebacut Tresna.’ Di awal pergelaran duta seni Kabupaten Bojonegoro ini menampilkan tarian dengan tema serupa bertajuk tari ’Cekak Aos’.

Upaya pemerintah Kabupaten Bojonegoro menampilkan seni ’Thengul’ tentu patut mendapat apresiasi sebagai langkah konservasi dan pelestarian budaya yang semakin langka ini. Kabupaten Bojonegoro terus berusaha melestarikan ’Wayang Thengul’ menjadi salah satu warisan tradisi dan ikon budaya Bojonegoro.

’Mbededhag Kebacut Tresna’ mengisahkan Raja Malowati Prabu Anglingdarma berburu di hutan dan menyamar sebagai rakyat biasa. Bertemu Bathik Madrim dan Dewi Setyowati Putra Begawan Manik Sutro. Terjadi pertengkaran hingga terbongkarlah penyamaran Raja Malowati Prabu Anglingdarma. Melihat kecantikan Dewi Setyowati, Prabu Anglingdarma terpesona. Maka dipinanglah Dewi Setyowati menjadi permaisuri.

Tari ’Cekak Aos’ terinspirasi dari pergelaran ’Wayang Thengul’ semalam suntuk. Lakon yang panjang ini kemudian digagas menjadi karya tari yang ceritanya diringkas; dipendekkan; ‘Cekak’ dan ’Aos’ artinya; padat. Visualisasi yang ditampilkan merupakan eksplorasi karakter ’Wayang Thengul’ yang terbuat dari kayu dengan gerak tubuh yang kaku dan gerakan patah-patah.

Turut menyaksikan pergelaran ini, Ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro, Sigit Kusharijanto SE MM, Kepala Badan Penghubung Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Drs. Dwi Suyanto, MM, dan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM.

Hadir juga Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Bojonegoro, Yayan Rohman AP, MM, para camat se- Kabupaten Bojonegoro, Ketua Paguyuban Bonjonegoro, Gatot Sugiono, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kepala Dinas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, serta pengurus Pawarta (Paguyuban Warga Jakarta) asal Jawa Timur.

Bojonegoro Makin Solid
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, dalam hal ini melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata semakin memperlihatkan kesungguhannya menggarap potensi daerahnya. Para seniman, budayawan, tim kreatif dan aparat pemerintahannya tampak kompak dan cukup serius menggarap paket promosi wisata dan budaya yang menjadi ikon daerahnya.

Kabupaten Bojonegoro berhasil membangun ruang seni pertunjukan yang lebih kompleks. Mereka berhasil mengeksplorasi seluruh sisi dan sudut area Anjungan Jawa Timur menjadi ruang presentasi dengan berbagai elemen artistik menarik, yang secara visual berhasil membangun imaji dan emosi pengunjung yang datang.

Dengan mengusung tema ”Pinarak Bojonegoro”, duta seni Kabupaten Bojonegoro, berhasil menawarkan cita rasa daerahnya, baik melalui pementasan seni, maupun pameran dan bazar produk unggulan daerahnya. Produk unggulan tersebut antara lain; Batik khas Bojonegoro, kerajinan kayu jati kualitas ekspor, makanan khas, Lempeng (Kerupuk Beras), _Rengginang Singkong, dan produk unggulan lainnya.

Para seniman yang terlibat di pergelaran ini, Deni Ike Kirmayanti sebagai pemilik ide. Selanjutnya Lailatul Ramadhani (Penulis Cerita), Adi Sutarto, S.Pd (Sutradara), Dyas Kirana (Asisten Sutradara), Ali Imron (Penata Panggung), Susetyo (Penata Artistik), Choellia Trie Wahyuni (Penata Kostum dan Make up), Rudi Lestyono, S.Sn (Penata Musik), Nika Kusumawati (Penata Tari), serta puluhan pengrawit, penyanyi dan penari.

Para Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur adalah, Suryandoro, S.Sn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Dra. Nursilah, M. Si. (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII).

Sepanjang bulan Agustus 2019 Anjungan Jawa Timur akan menampilkan duta seni dari Kabupaten Kediri (04/08/2019), Kabupaten Pasuruan (18/08/2019), Paket Acara Khusus Kabupaten Lamongan (24/08/2019), dan Kabupaten Ngawi (31/08/201), sekaligus dalam rangka memperingati 1 Muharram 1441 H./***

Comment

Leave a Reply

News Feed