Ahok-Djarot pasti menang. Tentu ungkapan ini sangat berbahaya. Sebab tidak seorang dapat memastikan hasil sebelum pemilihan belangsung. Tetapi pernyataan bahwa “Ahok-Djarot pasti menang”, juga bukan sedekar omong kosong belaka, apalagi disebut sebagai euforia atas bertenggernya Ahok-Djarot di puncak mengungguli dua pasangan lainnya berdasarkan berbagai lembaga survei yang mengadakan hitung cepat pada Pilkada putaran pertama kemarin. Pernyataan “Ahok-Djarot pasti menang” tentu saja harus mengikuti berbagai syarat yang rasional dan possible.

Pertama:

Ahok-Djarot pasti menang jika para pendukung Ahok-Djarot ikut bekerja. Dukungan tidak boleh sekedar datang ke Rumah Lembang dan berfoto bersama pak Ahok. Tidak sekedar hura-hura dengan aneka pentas hiburan yang gegap gempita. Tidak sekedar memberi analisa dan komentar yang pro Ahok. Bahkan tidak sekedar berdiri atau duduk di samping Ahok-Djarot saat diadakan konferensi Pers.

Sebab gejala pendukung Ahok yang sekedar “sensasional” tapi tidak ikut bekerja sangat banyak ditemukan. Buktinya dimana pendukung Ahok yang berteriak-teriak di konser gue 2 saat pemilu terjadi? Bukankah para pendukung Ahok mestinya tidak sekedar ikut memilih, tapi juga ikut ambil bagian dalam mengawal keberlangsungan Pilkada? Banyak kecurangan merugikan Ahok, dimana para relawan? Sejauh mana peran mereka? Ahok pasti menang jika para pendukungnya ikut bergerilya mempromosikan hasil kinerja pemerintah DKI Jakarta lima tahun terakhir dan juga menjadi agen kebenaran dalam suksesnya Pilkada.

Kedua:

Ahok-Djarot pasti menang jika para pendukung Ahok dan timsesnya belajar dari tingkat partisipasi warga DKI Jakarta dalam putaran pertama Pilkada 2017.

Dari penelitian Indikator, tingkat partisipasi pada pilkada 2017, yang pemungutan suaranya dilakukan hari ini, sebesar 80,16 persen. Sedangkan pada pilkada 2012, tingkat partisipasi tercatat 64 persen di putaran pertama dan 66 persen pada putaran kedua. “(Tingkat partisipasi warga) dari perolehan quick count (2017) 80,16 persen. Keterangan KPU pada Pilkada DKI 2012, tingkat partisipasi (warga) 64% di putaran pertama dan 66% di putaran kedua,” jelas Rizka.Hal ini disampaikan Rizka di kantornya, Jalan Cikini V, Jakarta Pusat, Rabu (15/2/2017). Dengan begitu, Rizka menyebut terjadi peningkatan signifikan atas kesadaran warga DKI Jakarta untuk menggunakan hak pilihnya. (Sumber detiknews.com)

Apa yang perlu dipelajari? Mestinya timses Ahok-Djarot tidak perlu bingung mencari cara bagaimana supaya suara Agus masuk ke Ahok-Djarot. Itu tidak terlalu penting! Suara Ahok-Djarot tetap bisa mengungguli pasangan Anies-Sandi sekalipun Agus memutuskan untuk mendukung dan berkoalisi dengan mereka, dengan catatan bahwa timses Ahok-Djarot bisa meningkatkan rasio pemilih di DKI Jakarta. Artinya, timses Ahok mestinya lebih giat untuk mencari simpati para golput diputaran pertama. Dan menurut hemat saya, itu lebih rasional daripada mencari simpati dari pendukung Agus yang notabene sudah banyak yang “anti Ahok”. Pastikan semua penduduk Jakarta datang ke TPS atau paling tidak 90%, maka Ahok-Djarot pasti menang.

Oleh karena itu, para timses dan relawan Ahok-Djarot lagi-lagi harus terlibat promosi Pilkada dan membuat gerakan “anti golput”. Sebab dengan meraih simpati dari golput, Ahok-Djarot pasti menang diputaran kedua.

Ketiga:

Ahok-Djarot pasti menang jika Pak Jokowi turun gunung seperti Pak Prabowo untuk mensukseskan kemenangan Ahok di Pilkada Jakarta. Ini memang agak berat! Mengingat Jokowi yang sekarang sedang menjabat sebagai kepala negara dilarang oleh undang-undang untuk terlibat kampanye. Bahkan dia harus berlaku netral dalam Pilkada.

Akan tetapi, Jokowi punya hak untuk memilih. Hak dan pilihannya ini pasti juga bersuara di dalam benak dan sanubarinya. Jokowi bisa saja tidak kampanye, tapi dia mempromosikan prestasi Ahok-Djarot selama periode terakhir ini. Misalnya, mengunjungi tempat-tempat di Jakarta yang merupakan hasil kinerja Ahok-Djarot. Jika ini dilakukan Jokowi, Ahok-Djarot pasti menang diputaran II.

 

 

 

 

 

 

 

 

(Sumber seword.com)